11 June 2018

Program Sustainable Development Goals (SDGs) Mengurangi Prevalensi Jumlah Perokok di Indonesia


Pembahasan seputar rokok memang selalu menarik untuk disimak. Pada Rabu (6/6) pekan lalu saya mengikuti segmen talkshow Ruang Publik KBR (Kantor Berita Radio) yang mengusung kampanye #RokokHarusMahal.

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. PBB menentukan agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi. Poin utama pembangunan berkelanjutan adalah menentaskan kemiskinan di berbagai bidang. Sehubungan dengan hal tersebut, tema yang diangkat pada pembahasan Ruang Publik KBR kali ini adalah “Kemiskinan, Rokok Murah, dan Capaian SDGs”. Kampanye #RokokHarusMahal merupakan capaian SDGs dan salah satu upaya untuk menyelamatkan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). 


Narasumber yang hadir pada talkshow; Dr. Arum Atmawikarta, MPH, selaku Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Kementerian PPN/Bappenas dan Tulus Abadi selaku Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Talkshow dipandu oleh Arin Swandari. 

Sumber: Fanspage Facebook Kantor Berita Radio-KBR
Wacana peningkatan harga rokok ini tentu tidak sembarangan, bisa menjadi salah satu cara pengendalian tembakau untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Program ini pun mendukung 17 poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs), tujuan pembangunan berkelanjutan 2015-2030. 

Mengapa kampanye #RokokHarusMahal #Rokok50Ribu perlu didukung? 

Saat saya menyimak talkshow dan tanya jawab dengan saksama, ada yang hal terlintas di benak saya seputar pencapaian kampanye #RokokHarusMahal, apakah hanya terpusat pada isu ekonomi dan mengenyampingkan aspek kesehatan masyarakat? Apakah dengan ini prevalensi jumlah perokok di kalangan miskin dapat dikendalikan? Saya bersyukur narasumber pun menjelaskan terkait hal ini.
"Pertama, isu rokok dan kemiskinan, yang kita lihat bahwa, dengan misalnya mengalokasikan uang untuk membeli rokok terutama penduduk miskin, itu menyebabkan tingkat pendapatan yang siap untuk dipakai oleh keluarga itu makin menurun. Kedua, berkaitan dengan kesehatan, jelas bahwa orang yang merokok itu risiko terhadap kesehatannya akan meningkat. " Dr. Arum Atmawikarta, MPH
Dapat diambil kesimpulan bahwa dengan mengarah pada wacana kenaikan harga rokok ini dapat sejalan dengan kualitas kesehatan yang dapat meningkat di kemudian hari apabila jumlah perokok dari kelompok kurang mampu semakin berkurang. Jelas bukan hanya terfokus pada ekonomi, namun aspek kesehatan juga menjadi tujuan utamanya.

Beliau juga menjelaskan bahwa tujuan rencana pembangunan berkelanjutan Sustainable Development Goals (SDGs) #RokokHarusMahal adalah upaya pengendalian tembakau yang jelas menjadi salah satu indikator yang perlu dicapai. Hal ini pun sudah menjadi kesepakatan dunia untuk mengurangi prevalesi merokok penduduk usia di bawah 15 tahun dan 18 tahun. 


Kebijakan-kebijakan yang berkaitan denagan rokok adalah isu kemiskinan, pendidikan, dan juga isu pangan dan gizi. Capaian SDG’s itu memerlukan dukungan yang kuat dan menyeluruh untuk kesejahteraan masyarakat, dan peningkatan kualitas hidup. 

Kelompok masyarakat berpendapatan rendah seharusnya dapat mengalokasikan uangnya untuk belanja kebutuhan primer atau yang lebih utama dibandingkan membeli rokok. Dengan latar belakang masalah kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang memaksakan untuk membeli rokok, ini jelas sangat disayangkan, padahal uang bisa digunakan untuk belanja kebutuhan utama rumah tangga yang lebih penting. 

Wacana program #RokokHarusMahal #Rokok50Ribu ini adalah upaya untuk mengurangi jumlah dan peningkatan perokok di kelompok ini. Merokok jelas berisiko. Masyarakat dengan penghasilan rendah dengan tidak adanya proteksi kesehatan, bukan saja merugikan diri sendiri, tapi merisikokan orang terdekat di sekelilingnya. Diharapkan program SDGs dapat mengurangi prevalensi jumlah perokok di Indonesia, hal ini bisa menjadi perhatian bahwa faktanya harga rokok yang murah dapat berdampak pada konsumsi rokok yang semakin tidak terkendali, termasuk pada remaja, anak sekolah, dan keluarga kurang mampu. 

Tahu kah kita bahwa ternyata Indonesia termasuk ke dalam 10 negara yang memiliki harga rokok termurah? Ini menjadi dilemma tak berkesudahan. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh narasumber, Tulus Abadi, bahwa rokok memiliki kandungan nikotin yang membuat si perokok ketergantungan, selama rokok mudah didapatkan dengan harga murah maka jelas ini bisa menjadi masalah yang serius. Masyarakat dengan pendapatan rendah bahkan pelajar bisa kapan saja membelinya tanpa berpikir panjang, padalah risikonya sangat besar dan jelas. Maka dari itu saya pribadi mendukung program #RokokHarusMahal untuk mengurangi prevalensi jumlah perokok di Indonesia. Jika mendukung kampanye "Rokok Harus Mahal", Ayo tandatangani petisinya di Change.org/rokokharusmahal. 👍


6 comments:

  1. Aku udah tandatangani petisinya..pokoknya dukung banget #RokokHarusMahal

    ReplyDelete
  2. Semoga gerakannya berhasil dan masyarakat Indonesia bisa lebih sehaaat

    ReplyDelete
  3. Klo dimahalin kira2 bakal beli ga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk anak remaja atau dewasa yang belum berpenghasilan bisa jadi berpikir dua kali buat beli, gitu juga untuk keluarga yang kekuarangan. hehehe

      Delete