Skip to main content

Kondisi Pertanian di Indonesia Saat Ini


Saya tinggal di pinggiran kota yang mana dulu itu banyak sawah yang bisa saya jumpai tidak jauh dari rumah. Ingat sewaktu kecil saya sering main ke sawah, bermain lumpur atau mencari keong sawah yang dalam istilah Sunda disebut tutut. Berlarian di jalan setapak diantara persawahan yang hijau  dan ikut menyaksikan para petani ketika mereka mulai menanam sampai memanen padi yang sudah menguning.

Sekarang saya tidak bisa menemukan lagi persawahan di dekat rumah saya, semua lahan perlahan hilang dan disulap menjadi area perumahan dan pembangunan. Sudah tidak bisa lagi menikmati keindahannya atau menurunkan kenangannya ke anak saya, semua tinggal cerita.

Ya, Indonesia dikenal dengan negara agraris, negara dengan sektor pertanian yang luas dan besar. Namun amat disayangkan, saat ini semua itu tidak sejalan dengan kenyataan. Pertanian di Indonesia semakin memprihatinkan. Diketahui bahwa Indonesia adalah produsen beras terbesar ke-tiga setelah China dan India, namun Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan berasnya sendiri, ini diakibatkan oleh banyak aspek. Bahkan Indonesia masih harus mengimpor beras dan hasil pertanian lainnya untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakatnya.

Aspek-aspek tersebut antara lain adanya pertumbuhan pemukiman perumahan dan juga pembangunan yang menjadikan area persawahan di banyak daerah di Indonesia semakin berkurang. Ditambah faktor pergeseran cuaca yang tidak menentu, kualitas benih padi, pupuk, dan adanya gagal panen. Hal inilah yang menjadikan usaha pertanian indonesia mengalami penurunan yang drastis.

Harus dicari langkah dan solusi, kalau tidak Indonesia yang dikenal dengan negara agraris lama-lama akan terkikis. Saya berharap pertanian di Indonesia akan bangkit kembali untuk kemakmuran rakyat dan warisan berharga generasi penerus bangsa. 

Comments

  1. Amin,,amin semoga pertanian Indonesia kembali bangkit.

    ReplyDelete
  2. mereka yang kuliah di bidang pertanian pun ENGGAN untuk bekerja di bidang pertanian, namun harapan itu masih ada....
    salam kenal Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayang sekali ya, mas. Semoga harapan itu bisa terwujud. InsyaAllah. Aamiin.

      Salam kenal juga,
      :)

      Delete
  3. Kalo di jogja digusurnya buat bangun hotel. Hotel menjamur banget di Jogja. Jadi macet macet macet dan gak hijau hijau kayak dulu lagi aku sedih 😩

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sedih banget pertama kali ke Jogja pas masih sekolah. Sekarang beda banget. Huhuhu. Puk-puk mbak Ges.

      Delete
  4. Kita mesti cari solusinya sama-sama, biar pertanian pun petani Indonesia bisa kembali sejahtera, pembahasaan yang menarik, mbak.

    Salam,
    Syanu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih.
      Betul mas Syanu, semoga geliat pertanian Indonesia bisa kembali bangkit. Aamiin

      Delete
  5. Hadeeeh iya nih mba, pembangunan buas bngt ya. Padahal drpd sibuk mikirin daerah yg udah maju coba deh mikirin daerah yg masih ketinggalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah mba Amanda. Banyak yang masih tertinggal daerahnya. Tapi moga pertanian kita ngga tergeser ya.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

OTW Sushi: Kedai/Resto Kuliner Jepang dengan Harga Terjangkau dan Bahan Berkualitas

Kuliner Jepang saat ini semakin digandrungi di Indonesia. Kepopulerannya sejalan dengan bertumbuhnya minat terhadap musik (J-pop/ J-rock), anime, dorama, manga, budaya, dan bahasanya. Semua hal yang berbau Jepang di Tanah Air meningkat cukup signifikan. Bahkan restoran dan cafe saat ini banyak mengusung tema Jepang, menawarkan banyak pilihan makanan dan menghadirkan nuansa Negeri Sakura. Kalau mau buka bisnis, marketnya juga ternyata cukup luas di berbagai kalangan.  Kembali lagi bahas seputar kuliner Jepang, saya mau kasih rekomendasi salah satu kedai/ resto Jepang favorit saya sejak 2015-an, namanya OTW Sushi. 

Nostalgia dengan Taman Bacaan Tertua di Bandung (TB Hendra)

Disadari atau ngga, waktu cepet banget berlalu. Flashback ke puluhan taun lalu, saat saya masih SMA suka banget main ke radio-radio dan taman bacaan yang ada di Bandung. Waktu itu belum ada sosial media dan circle/ komunitas online, waktu luang dan main banyaknya ya ngebolang. Dari dulu hobby baca buku, novel, dan komik. Ngga ada gawai, jadi di angkutan umum pun ya baca buku, apalagi perjalanan sekolah saya sangat panjang (rumah di Bandung Timur - sekolah di Bandung utara) seringnya dimanfaatkan dengan baca buku. Ngomong-ngomong tentang baca buku, dulu tongkrongan yang dicari di Bandung itu taman bacaan. Bagi saya pribadi ada salah satu tempat yang cukup melekat, Taman Bacaan Hendra (TB Hendra). Waktu itu kalau mau baca masih ngantri banget, seiring waktu dan perkembangan zaman, dengan adanya smartphone , perlahan taman bacaan mulai melengang. Selain karna pergeseran zaman, minat baca pun banyak yang berpindah ke gadget , sebagian orang memilih membaca di ebook, tapi saya tetap lebi...

Mencintai Lingkungan Melalui Digitalisasi

Saya mengajarkan anak untuk mencintai lingkungan dari hal yang paling sederhana, yaitu tidak mengotori lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan belajar mengelola serta memilah sampah atau bahan daur ulang. Sesederhana itu! Mencintai lingkungan dan mengajarkannya kepada anak berarti kita berperan serta menjaga alam untuk warisan bagi generasi penerus. Pembiasaan akan kesadaran lingkungan sejak kecil membuat anak saya lebih sadar terhadap lingkungan, sekarang ia sudah beranjak dewasa, hal tersebut begitu melekat di dalam dirinya.  Mencintai lingkungan tentu harus dilatih sejak dini dengan berbagai cara. Pernah kah terlintas untuk mengajarkan anak mencintai lingkungan melalui digitalisasi? Selain pastinya harus diajarkan secara langsung, ternyata kita juga bisa lho memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada. Anak-anak zaman sekarang sangat akrab dengan teknologi, jadi memanfaatkan minat mereka untuk tujuan edukasi adalah cara yang cerdas.