14 May 2012

Stigma Sosial Terhadap Penyandang Disabilitas


“Paradigma yang terbangun di masyarakat mengenai para pekerja (penyandang disabilitas) sungguh memprihatinkan. Satu kata yang terlintas ialah DISKRIMINASI!”

Tergugah dari berita yang dilansir oleh VOA Indonesia mengenai isu sosial atas Laporan WHO dan Bank Dunia Ungkap Hambatan bagi Penyandang Cacat pada 08 Agustus 2011 dan juga artikel tentang  Perusahaan yang Ramah untuk Penyandang Cacat pada 01 Mei 2012, ternyata kita harus semakin menyadari bawha realita yang meliputi para penyandang disabilitas seakan tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan stigma sosial negatif. Semua itu seakan menjadi momok yang selalu mengancam, tentu saja pemikiran manusia “terbelakang” tersebut masih ada selama mereka tetap menganggap penyandang disabilitas sebagai sebuah kekurangan dan mengkategorikan mereka sebagai makhluk yang memiliki ketidakmampuan hakiki. Tentu pendapat tersebut adalah salah besar.



Penyandang Disabilitas
Disabilitas yang tertanam dalam kehidupan seseorang tentu saja akan selalu menarik untuk disimak. Orang-orang dengan disabilitas (disabled person) dapat dipastikan akan lebih sulit melakukan pekerjaan sehari-hari bila dibandingkan dengan orang-orang yang telah diberikan kesehatan fisik dan mental. Beberapa contoh disabilitas yang tergolong ringan atau dapat diatasi yaitu seperti patah tulang, hal ini bersifat sementara dan dapat disembuhkan. Kemudian disabilitas yang relatif kecil lainnya seperti gangguan penglihatan tentu dapat dimodifikasi dengan menggunakan lensa kontak. Pada kasus ini tentulah disabilitas yang diklasifikasikan kelas berat dan patut kita selami lebih dalam yaitu penyandang disabilitas permanen. Dalam hal ini penyandang disabilitas bukan berarti seseorang dengan ketidakmampuan untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat pada tingkatan yang sama dengan orang tanpa disabilitas.

Terhadap Masyarakat Inklusi
Sebagai contoh, seseorang yang menggunakan kursi roda mungkin dapat hidup mandiri jika hambatan fisik dan sosial untuk mobilitas telah dihapuskan, misalnya dalam koridor diskriminasi dan ekspansi karir. Dalam hal ini diskriminasi terhadap orang dengan disabilitas jika dihubungkan terhadap ketenagakerjaan tentu diskriminasi tersebut harus ditiadakan, sekira orang yang bersangkutan telah memenuhi kualifikasi  dengan dibekali skill atau kecerdasan yang dimilikinya. Di Indonesia, sebagaimana tercantum dalam UU No 4/1997 tentang mempekerjakan satu persen penyandang disabilitas di perusahaan, maka berdasarkan ketentuan hukum tersebut siapapun tidak boleh mendiskriminasikan orang yang telah memenuhi syarat untuk sebuah posisi dan yang, dengan atau tanpa "akomodasi masuk akal" perihal kedisabilitasan mereka. Dapat diyakini bahwa orang tersebut dapat melakukan fungsi penting dari pekerjaannya di sebuah perusahaan. Upaya oleh orang-orang disabilitas untuk menetapkan hak-hak hukum menandai kontras tajam dengan kebijakan publik tradisional yaitu pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Memilukan!

Kita mengemban sebuah amanat besar dan kita pun memiliki peranan penting terhadap masyarakat inklusi. Untuk kedepannya khususnya di Indonesia diharapkan dapat memberikan perlindungan yang luas terhadap penyandang disabilitas yang menginginkan “diskriminasi khusus” yakni membutuhkan lembaga-lembaga negeri/swasta, fasilitas publik atau lainnya untuk membuat bangunan baru atau yang sedang dalam tahap renovasi, menginginkan transportasi publik seperti bis atau kereta api yang dilengkapi dengan fasilitas khusus untuk mengakomodasi para penyandang disabilitas fisik contohnya adalah akses kursi roda ke transportasi umum, sedangkan pada gedung diharapkan fasilitas landai untuk memasuki gedung bagi para penyandang disabilitas gerak yaitu bangunan pintu masuk khusus, nomor lantai Braille pada lift bagi para penyandang disabilitas penglihatan, dan perangkat telekomunikasi bagi para penyandang disabilitas pendengaran yang mana itu semua merupakan beberapa metode untuk membuat bangunan lebih mudah diakses oleh para penyandang disabilitas.

Dalam advokasi untuk hak-hak mereka, orang disabilitas telah bekerja untuk membangun beberapa prinsip penting. Salah satunya adalah bahwa mereka dianggap berdasarkan prestasi individu, bukan pada asumsi stereotip tentang penyandang disabilitas. Penting untuk diperhatikan bahwa masyarakat harus membuat perubahan tertentu untuk memungkinkan mereka agar lebih mudah berpartisipasi dalam kegiatan bisnis dan sosial. Kemudian hal yang tidak bisa diabaikan bahwa orang disabilitas harus diintegrasikan dengan orang yang tidak disabilitas. Keberhasilan pelaksanaan ketentuan peraturan ini tentu akan memberikan dampak yang mendalam dan positif tentang status orang-orang penyandang disabilitas.

Sumbangsih motivasi yang tak terelakan dari sosok disabilitas mampu menggugah semangat juang yang tinggi untuk dapat berprestasi, orang tanpa disabilitas yang statis harus malu melihat kenyataan bahwa banyak diantara penyandang diabilitas mampu melahirkan karya-karya yang patut diacungi jempol, seperti para atlet, seniman, pekerja dan para penyandang disabilitas pada ragam bidang lain yang mana disabilitas itu sendiri bukanlah suatu penghalang yang berarti. Kerja keras dan usaha tanpa kenal lelah telah menyumbangkan satu prestasi yang membanggakan bagi para penyandang disabilitas yang sebetulnya mereka "tanpa disabilitas". Disabilitas mungkin diartikan sebagai sebuah ketidakmampuan namun mereka-mereka yang berprestasi telah mampu menghapus embel-embel disabilitas pada dirinya.

Penyandang (Dis)Abilitas, Sumber Inspirasi!
Budaya yang berkembang di masyarakat seakan menjadi tamparan keras yang tentu akan memberikan sebuah pelajaran berharga bagi para penyandang disabilitas. Sebut saja Riqo ZHI salah satu founder dari www.kartunet.com (Website Karya Tunanetra), wawancara singkat  dengannya mampu membuka sebuah pemikiran maju mengenai penyandang disabilitas.

Penyandang disabilitas bukan berarti tidak mampu. Ini merupakan 'point of view' dari seseorang dengan “disabilitas”. Ia menjelaskan bahwa disabilitas kalau diartikan secara harfiah memang ketidakmampuan tetapi itu hanyalah sebuah istilah, yang memberi kehalusan menggantikan istilah penyandang cacat. Sebenarnya setiap manusia itu punya ketidakmampuan, tidak cuma dari segi fisik, tapi banyak hal. “kami ingin mengatasi suatu kendala yang seharusnya secara umum bisa dilakukan oleh kebanyakan orang, maka kami mengatasi keterbatasan itu dengan cara kami sendiri.” Penjelasan yang sangat sederhana namun masuk akal. “kalau nyatanya kami bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang kebanyakan, apakah kami masih disebut penyandang disabilitas?” Riqo menambahkan opini yang memang muncul dari hari dan pemikirannya. Motivasi yang ia emban cukup sederhana yakni ia hanya ingin melakukan apa yang seharusnya dapat ia lakukan, selain itu ia ingin menguji sampai dimana sebuah paradigma tentang keterbatasan.

Pendapat masyarakat saat ini tentang penyandang disabilitas tentu akan berbeda dengan pemikiran “kolot” dimana jaman teknologi dan informasi belum begitu maju dan berkembang seperti sekarang ini. Diskriminasi tidak harus disandingkan dengan disabilitas. Banyak sosok inspirasi dengan sandangan disabilitas mampu menghapus gelar “disabilitas” yang melekat pada dirinya, tentu dengan melahirkan sebuah karya yang luar biasa. Disabilitas bukanlah sebuah halangan untuk mengembangkan diri, atau melahirkan sebuah inovasi, dan salah satunya Riqo mampu menjadi sosok inspirasi. Semua ini mampu menggugah sebuah polemik yang terjadi di masyarakat mengenai pandangan disabilitas.

Harapan Kita

Kita harus mampu mensosialisasikan isu-isu disabilitas guna membentuk masyarakat inklusif dengan visi dan misi yang telah diemban sehingga dapat membuka mata, hati dan pikiran mengenai penyandang disabilitas. Perlu digaris bawahi bahwa hal ini merupakan tanggung jawab kita semua tanpa terkecuali.

“Jangan lihat sebagai apa orang dilahirkan, tapi menjadi apa dia!” - JK ROWLING

***

21 comments:

  1. Sampai kapanpun yg namanya diskriminasi itu tidak baik, bahkan buruk dimata saya pribadi. apalagi terhadap penyandang diabilitas..

    DISKRIMINASI CORET... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup! diskriminasi coret! saya setuju... pada hakikatnyakita semua sama disamping kekurangan dan kelebihannya sebagai manusia...

      Terimakasih sudah berkomentar :)

      Delete
  2. Coba contoh Singapura ya, yang ngasih fasilitas untuk orang-orang disabilitas, bahkan setiap perusahaan wajib memiliki 10% pegawai disabilitas.

    Di Indonesia mungkinkah bisa diimplementasikan ?
    Persepsi orang-orang Indonesia terhadap orang-orang disabilitas masih buruk ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indonesia harus banyak belajar dari negara yang sudah jauh lebih maju terutama dalam pelayanan terhadap penyandang disabilitas.

      Pemerintah harus lebih peka dan cekatan menanggapi masalah tersebut.

      Dimulai dari diri sendiri untuk menghilangkan kata diskriminasi terhadap seseorang dengan gelar disabilitas. Diskriminasi hanya berlaku pada perilaku yang dapat merugikan orang lain.

      KCI merupakan wadah untuk memproklamirkan bahwa disabilitas bukanlah sebuah hambatan dan halangan untuk melahirkan karya yang luar biasa.

      Boleh dikatakan DISCRIMINATION IS NOTHING!

      Delete
  3. saya setuju dengan tulisan mba zia, karena dibalik kekurangan yang mereka miliki, saya yakin banyak diantara mereka yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata orang normal. Jika saja banyak perusahaan yang mau membuka 'mata' atas kecerdasan yang mereka miliki, saya yakin mereka bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik, bahkan bisa memperbaiki atau memfasilitasi disabilitas mereka nantinya.

    Tentunya peranan pemerintah juga sangat diperlukan untuk mengikis disabilitas diskriminasi dalam masyarakat.

    Dari tulisan mba zia, saya sangat berharap pemerintah lebih dapat memfokuskan hal Edukasi untuk semua lapisan masyarakat termasuk para penyandang disabilitas. Karena Pendidikan merupakan akar untuk sebuah negara maju.

    PS: what a great writing :D

    ReplyDelete
  4. Secara fakta, di Indonesia, sangat mudah ditangkap bahwa telah terjadi diskriminasi, baik itu menyangkut fasilitas gedung, publik, mau pun hal-hal yang telah diterangkan secara gamblang di atas.

    Kesan yang didapat dari kenyataan tersebut adalah bahwa pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta masih luput dari pandangan utuh bahwa manusia ada juga yang punya disabilitas.

    Menurut saya, kondisi ini membutuhkan enforcement atas kebijakan dan tekanan yang kuat dari pemerintah terhadap perwujudan sarana-sarana publik.

    Kenapa demikian? Karena otoritas untuk menerbitkan perijinan serta persyaratan atas rencana pembangunan oleh swasta ada di tangan pemerintah. Sehingga tanpa dukungan penuh dari pemerintah untuk mewujudkan penyediaan sarana dengan fasilitas yang memadai bagi penyandang disabilitas hampir tidak mungkin berhasil. Di atas kertas sebetulnya sudah menjadi kesepakatan internasional bahwa itu adalah hak Warga Negara. Hanya saja perwujudannya tentu akan sangat tergantung pada skala prioritas pemikiran para perencana dan pelaksana.

    Sudah saatnya Warga Negara yang sadar akan kondisi yang terjadi turut berpartisipasi dalam batas-batas yang mampu dilakukannya seperti memberikan apresiasi dalam bentuk kesempatan kerja bagi yang memenuhi syarat meski ia penyandang disabilitas, melakukan pemilihan tempat yang mudah diakses, dan supportive pada kebutuhan penyandang disabilitas.

    Saat ini KCI memang memegang peranan penting sebagai salah satu bagian dari masyarakat yang berkonsentrasi pada perjuangan para penyandang disabilitas. Advokasi yang sangat baik ini harus disebarluaskan dan didukung oleh orang-orang yang bukan penyandang disabilitas.

    Tulisan yang sangat memanggil nurani ini mudah-mudahan bisa diikuti oleh para penulis online lainnya melalui kampanye yang berkelanjutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Opini yang sangat kentara dan sarat dengan sebuah perenungan besar. Semakin jelas bahwa diskriminasi bukanlah sebuah solusi melainkan asumsi yang menjadi salah arti. Penyandang disabilitas adalah satu dari beragam contoh isu sosial yang terjadi di masyarakat.

      Kalau bukan kita yang perduli, siapa lagi?

      Komentar yang menggetarkan hati nurani kita sebagai manusia...

      Delete
  5. Disabilitas perlu dijeli lebih lekap. Iya pemerintah abai lalai menyedia kebutuhan bagi kaum difabel. Namun, tak elok jika disabilitas jadi biang keladi ketidaksamaan. Kaum difabel layak membuktikan dirinya bahwa mereka pantas. Tengok CEO GE Electric Indonesia, niscaya Anda akan tercengang mengamati kiprah dia. Kaum difabel perlu melangkah bukan dua tiga melain lima enam langkah lebih jauh dari orang lain. You are what you think! Saya tidak akan merasa sakit jika diri saya tidak mengizinkannya ujar Gandhi. Demikian pun kaum difabel tidak akan merasa "sakit" jika dirinya tidak mengizinkan caca maki hinaa membuatnya lemah. Lets make it clear : I'MPossible!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Contoh sosok sukses dari mereka kaum difabel sudah banyak dibuktikan secara jelas. Maka kita tidak pantas dan lantas memandang mereka dengan sebelah mata. Kata 'disability' mungkin menjadi kurang pantas, karena nyatanya mereka memiliki 'ability'.

      Delete
  6. abis baca artikel ini, jadi inget film korea yang judulnya Bare Foot Ki Bong. Ki bong yang mengidap down syndrome punya keinginan buat beliin ibunya gigi palsu karena udah tua. buat mewujudkannya dia ikut lomba marathon di seoul. tapi sebelum itu ki bong latihan berat pagi sore.

    waktu bener2 ikutan lomba, bisa jadi akhirnya ki bong kalah dan ada di urutan akhir (dia punya kelainan di paru paru). tapi ada hal yang lebih penting dari perkara menang atau kalah, yaitu seseorang dengan downsyndrome dapat hidup lebih bersemangat karena di dukung orang orang terdekatnya, ibunya, kawan kawannnya.

    very nice post. uncapable akan selalu jadi possible kalau di dukung orang2 sekitar. (bukan didikte)

    ini link youtubenya,,di kopas aja ^^

    http://www.youtube.com/watch?v=hZmpYkyAEMU

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih komen dan sharenya. menambah ispirasi! :) saya suka quotenya "uncapable akan selalu jadi possible kalau di dukung orang2 sekitar (bukan didikte)".

      Delete
  7. you got a real talent on writing..
    sungguh tulisan yang sangat inspiratif skali loh teh. meskpiun aku ga terlalu paham dengan hal-hal seperti ini dan ada beberapa kata yang sebetulnya ga aku pahami apa artinya, tapi tulisan ini bikin aku pnasaran baca sampai akhir hehehe..
    thumbs for you!

    keep on the good work and keep writing all the good things around..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks tina for the comment :)

      Intinya sih kita harus menjauhkan stigma negatif dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.

      so, keep your spirit burning dear...

      Delete
  8. BAGUS TULISANNYA! *JEMPOL

    ReplyDelete
  9. Kadang kita lupa sama mereka yah!
    Yuk! kita lebih perduli lagi kepada sesama!

    Nice posting!

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup. setuju! siapa lagi yg perduli kalo bukan kita ^^
      thank you yaaaa.

      Delete
  10. Bagus blognya.
    Saya sangat apresiatif dengan profesi mbak Zia sebagai Citizen Journalist!

    Oh ya... saran saya untuk meningkatkan rank alexa dan google page rank-nya

    Semoga sukses
    Salam hangat
    -Harsen-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo mas Harsen,

      Terima kasih sudah meninggalkan jejaknya dan juga untuk sarannya ya.

      Sukses juga buat mas Harsen.

      Salam hangat,
      Zia

      Delete
  11. "Kalau bukan kita yang perduli siapa lagi ", setuju banget Zia semoga semakin banyak masyarakat yg lebih perduli terhadap disabilitas. Apalagi UU tentang disabilitas telah disahkan oleh pemerintah tgl 16 Maret 2016 kemarin semoga kedepannya baik pemerintah, swasta dan masyarakat memberikan kesempatan yang seluas2nya untuk penyandang disabilitas. Trims artikelnya Zia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga semakin banyak masyarakat yang memahami dan peduli akan hal ini. Aaamin mudah-mudahan dengan UU yang baru saja disahkan, kesempatan bagi penyandang disabilitas semakin terbuka lebar peluangnya.

      Terima kasih kembali tante. tetap menginspirasi ya tante Tini. *peluk :*

      Delete