29 April 2015

Memilih Sekolah Dasar Negeri atau Swasta

"PENDIDIKAN adalah senjata yang paling ampuh 
yang bisa Anda gunakan untuk mengubah dunia".
-Nelson Mandela-


Setiap orang tua sudah pasti menginginkan pendidikan yang layak bagi putra putrinya. Pendidikan dimulai dari rumah, lingkungan, dan sekolah. Bicara tentang pendidikan di sekolah, tentu kita akan memilih sekolah terbaik bagi anak-anak kita, namun sekolah terbaik itu bukan berarti sekolah termahal melainkan sekolah yang tepat dan nyaman bagi mereka.

Menjelang tahun ajaran baru sudah pasti banyak para orang tua yang berlomba mencari-cari informasi tentang sekolah-sekolah. Apalagi orang tua yang baru akan menyekolahkan anak-anaknya ke tingkat SD, kebanyakan mereka bingung dan bahkan bimbang karena masuk SD jaman sekarang tidak sesimpel dulu. Beberapa pemikiran dan pertanyaan orang tua tentang dimana menyekolahkan anaknya, SD Negeri atau swasta? Usia 7 tahun atau 6 tahun? Fullday atau reguler? Sekolah umum atau agama? Kadang hal-hal tersebut yang menguras otak dan membuat orang tua bepikir ulang dimana mereka akan menyekolahkan anak-anaknya.

Antara sekolah dasar negeri dan swasta?

Sudahkan kita mencari informasi mengenai sekolah negeri dan swasta? Setiap sekolah  tentu memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Sebelum memilih sekolah pastikan bahwa sekolah yang dipilih memang tepat untuk anak kita.

Sekolah Dasar Negeri

Saat ini Indonesia sudah menerapkan aturan Wajib Belajar 9 Tahun, yang berarti pemerintah menyediakan pendidikan Sekolah Dasar Negeri dan lanjutan hingga sekolah menengah gratis bagi siapa saja tanpa terkecuali. Hal ini tentu menjadi alasan mengapa banyak orang tua yang memilih sekolah negeri.

Menyekolahkan anak di SD Negeri tentu menjadi pilihan yang baik, dengan program kurikulum yang dicanangkan pemerintah, serta beberapa subsidi yang jelas akan meringankan beban biaya pendidikan. Dalam kegiatan belajarnya Sekolah Negeri pun tidak berlangsung lama untuk kelas dasar hanya 3 sampai 4 jam sehari.

Anak bisa disekolahkan di SD Negeri apabila sudah mencapai tahap kematangan usia sekitar 7 tahun, namun memang sebaiknya anak yang bersekolah di negeri tepat bagi anak yang setidaknya sudah siap dan mandiri. Seorang guru akan menagani rata-rata satu kelas sekitar dari 30-40 siswa. 

Kebanyakan yang menjadi momok bagi orang tua yang telah menyekolahkan anaknya di SD Negeri adalah ketidaktahuan mereka terhadap kebutuhan anak, perlu dipahami bahwa umur yang memadai semisal sudah 7 tahun tidak bisa menjadi acuan bahwa anak bisa disekolahkan di Sekolah Negeri. Beberapa kasus ditemui, seorang anak dinyatakan masuk dan diterima sebagai siswa Sekolah Negeri, namun sejalan dengan waktu tenyata anak tersebut tertinggal pelajaran dan tidak bisa berbaur dengan kawan-kawannya. Setelah diperiksa tenyata anak tersebut merupakan anak dengan diagnosa disleksia, bahkan kasus lain adalah orang tua memaksakan anaknya sekolah padahal jelas bahwa anak tersebut "spesial" (Anak Berkebutuhan Khusus). Masalah ini sering kali ditemui, dan terpaksa anak harus putus sekolah atau pindah. Sekolah Dasar Negeri tidak mengadakan psikotes sehingga hal-hal khusus pada anak sering terabaikan. Sebagai orang tua tentu kita tidak boleh egois, disabilitas pada anak tidak lantas membuat kita menyerah. Saat ini sudah ada beberapa Sekolah Dasar Negeri Inklusi, menyediakan helper dan expert bagi ABK, walaupun masih sangat terbatas.

Sekolah Swasta

Sekolah swasta berkembang pesat, saling berlomba dalam hal fasilitas, sistem pendidikan, dan tenaga ahli serta pengajar. Saat ini sekolah swasta banyak menawarkan berbagai keunggulan. Sebagian besar menerapkan sistem fullday, serta penawaran ekstra kurikuler yang beragam dan dapat disesuaikan dengan minat murid. Sekolah swasta dengan basis agama sudah sangat berkembang baik, dulu mungkin Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) tidak terlalu banyak, namun saat ini baik SDIT maupun MI swasta dikemas dengan sistem pendidikan yang menarik, modern, dengan menerapkan serta menegakkan norma dan kaidah Islam.

Orang tua pasti akan mengerti kebutuhan pendidikan anak-anaknya, menyekolahkan anak di sekolah swasta tentu banyak dipilih orang tua karena berbagai alasan. Sekolah fullday menawarkan anak belajar, bermain, dan berkembang di lingkungan pendidikan dengan pengawasan pengajar maupun pengawas di sekolah. Sekolah dengan basis agama Islam pun dipilih, karena tujuh tahun kedua usia anak (kelas 1-6) merupakan titik awal membangun pondasi agama pada diri anak. Selain menanamkan agama di rumah, lingkungan sekolah pun adalah pilihan dimana agama harus diutamakan. Apabila seringkali terlontar ucapan bahwa di sekolah swasta fullday anak akan jenuh dan kasihan. Padahal lingkungan sekolah menjadi tempat bermain yang menyenagkan karna banyak teman. Beberapa sekolah biasanya akan membuat program-program yang tentunya membuat anak senang berada di sekolah.

Sekolah swasta pun melakukan testing dan wawancara dengan psikolog sebelum menerima siswa-siswinya. Hal ini dilakukan agar guru mengetahui psikologi setiap anak, karna penanganan setiap anak tidak sama. Sekolah dasar swasta biasanya tidak mematok anak harus 7 tahun, kurang dari itu pun apabila anak sudah cukup matang dan mampu mengikuti kegiatan di sekolah maka sekolah swasta akan menerima anak tersebut. Sekolah swasta biasanya per kelas terdiri dari 10 sampai 20 murid, ini diterapkan untuk keefektifitasan pada saat belajar dan saat pemantauan. Psikolog juga dimaksudkan untuk mendeteksi dini apakah calon murid merupakan anak spesial, karena sekolah swasta memberikan treatment khusus bagi ABK.

Sekolah swasta mahal? Biaya yang dikeluarkan memang lebih, namun banyak juga sekolah swasta yang terjangkau. Hal ini pun sejalan dengan fasilitas atau program serta tenaga pendidik yang ditawarkan. Perlu diketahui bahwa beberapa sekolah swasta memiliki program penawaran sekolah bagi mereka yang kurang beruntung. Jadi sekolah swasta pun bisa untuk siapa saja.

Pada intinya memilih Sekolah Dasar Negeri atau Swasta, tergantung kepada kebutuhan dan kemampuan anak. Pertumbuhan dan perkembangan serta kematangan anak tidak bisa dipaksakan. Sekolah adalah hak anak, menyekolahkan adalah kewajiban orang tua, karena pendidikan akan mengantarkan masa depan anak ke arah yang lebih baik.


16 comments:

  1. Ini yg jadi dilema buatku. Di satu sisi, pengen di negeri aja. Selain terjangkau, jam belajarnya juga ga padat, ga sampe sore. Tp kalo liat kurikulumnya, kok enakan di swasta ya? Cuma kalo di swasta parah banget mahalnya -_____-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mak. Sy juga nyari swasta diliat dr kemampuan dan disesuaikan sama finansial kita hehehe. Banyak juga yang ga terlalu tinggi tapi sekolah sama sistem pendidikannya oke juga. Ini PR kita buat cari sekolah terbaik ya bukan termahal. hihihi

      Semangat mak Isti! :)

      Delete
  2. Saya dari dulu sekolah di swasta, mungkin dulu karena pengaruh pergaulan aja ya, tapi ketika adik saya mau sekolah baru-baru ini, ternyata biaya masuk sekolah negeri juga mahal (sampai puluhan juta lohh #pengalaman, mungkin karena banyak peminat jadi agak pasang tarif - walaupun bulanannya gratis) - dan ya itu, mempertimbangkan lagi bahwa sekolah negeri ga ada tes ini dan itu membuat fokus guru pada anak kurang maksimal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mak Noniq, untuk sekolah sd dan smp negeri sekarang gratis, paling biaya kaya seragam dll, untuk dsp dan spp free of charge hehe. Nah, klo SMA betul negeri atau swasta sama2 mahal apalagi sekolah favorit. Karna sekolah negeri perkelasnya bisa sampe 40an jadinya memang ga bisa fokus ke setiap anak, bedanya swasta dibatasi mak/10 anak satu guru, kalo sekelas lebih sari itu biasanya ada guru pendamping (untuk skala SD).

      Pokoknya kita harus pinter2 milih sekolah, intinya bukan yang termahal tapi yang sesuai untuk kebutuhan anak ya mak. :)

      Makasih udah ninggalin jejak dimari yah... hehe

      Salam,
      Zia

      Delete
  3. Meski anak saya masih balita tapi saya juga sudah mulai pasang telinga cari info untuk sekolahnya nanti nih he he. Ada niatan mau mendaftarkan ke SD in syaa Allah kalau usia 6 tahun 9 bulan (maklum lahirnya setelah bulan Juli he he).

    Btw, sekalian mau minta di follow back ya Mbak hi hi (ngarep), baru manjat thread follow-follow an di KEB :)

    Sampai saat ini saya masih cenderung ke SDIT (swasta) meski ibu saya dulu guru SD Negeri. Harapannya kalau di SD swasta, guru-gurunya lebih telaten membimbing murid-muridnya. Yah, frankly speaking saat saya SD, SMP, SMA ada guru yang kinerjanya nggak terlalu oke. Mau ngajar asal-asalan toh tetap digaji gitu :( Dan nggak semua welcome kalau orang tua mau konsultasi atau ngasi masukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mak Heni, Makasih ya udah follow blognya.

      Iya saya juga untuk cari info jauh2 hari sebelum anak mulai sekolah. Balita kita ga akan kerasa cepat besarnya, tau2 udah masa masuk sekolah.

      Saya juga pilih SDIT dengan alasan yang hampir serupa mak. Hehe Dulu jeblosan sekolah negeri dari SD-SMA, performa sebagian gurunya kurang maksimal. Rata2 ya gitu, kasih materi ato tugas ujung2nya tanpa evaluasi. Tapi disamping itu memang ada beberapa guru yang bagus cara mengajarnya, tapi kebanyakan ngga. hiks!

      InshaaAllah swasta SDM, penanganan, dan programnya jauh lebih baik. Semoga nanti bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk si kecil ya mak.

      Salam hangat,
      Zia

      Delete
  4. Thanks for sharing, Teh Zia.

    Aku galaaau, hihihi. Beneran kayak gini ya perasaan anaknya mau daftar sekolah SD. Beda sama saya dulu. Masuk sekolah ya tinggal daftar soalnya sekolah di desa juga gak banyak. cuma ada satu di tiap desa.

    kalau di kota beda euy, salah-salah pilih sekolah juga bisa mempengaruhi belajar anak ya kan?

    Mau masukin ke SDIT gak kuat bayarnya, haha

    Milih SD Negri aja, tapi ini jadi pergulatan batin antara ego kita ortunya dengan kemampuan anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan senang hati teh Uwien,

      Untuk masukin anak ke sekolah negeri yang pasti anak memang harus siap dan kematangan anak itu penting, mungkin kalo aku masukin anakku ke negeri nunggu sampai umur 7 tahun. Hihihi Aku masukin Vito SD umur 6 tahun karna alhamdulillah swasta ga terlalu membebankan akademis sampai kelas 3. hehehe

      Semangat teh, yang terbaik itu bukan selalu yang termahal. Intinya cari sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak. :)

      SD Negeri juga sekarang banyak yang udah bagus malah kualitasnya bersaing dengan swasta. :*

      Tetap semangatttt... *peluk

      Delete
  5. Dulu orang tua banyak memilih menyekolahkan putra/inya di sekolah negeri dengan pertimbangan murah dan "lebih baik" dari sekolah2 swasta, tapi sekarang sekolah2 negeri tidak kalah mahalnya dengan sekolah swasta benar seperti kata Zia untuk sekolah negeri favorit bisa lebih mahal daripada sekolah swasta. Jadi pintar2nya orang tua saja untuk memilihkan sekolah untuk putra/i karena pengalaman teman menyekolahkan anak di sekolah swasta internasional yg cukup mahal dengan banyak fasilitas yang dijanjikan ternyata prakteknya fasilitas itu cuma sebagian saja yang diberikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tante untuk SD-SMP negeri sekarang gratis, orang tua banyak yang memilih menyekolahkan di sekolah swasta karena fasilitas, tenaga pendidik, dan program belajar. Untuk SMA negeri harganya memang bersaing dengan swasta, betul tante makanya kita harus pintar-pintar memilih sekolah terbaik untuk anak-anak bukan sekolah termahal. :) Hmmm tapi kabarnya sekarang SMA negeri juga gratis. hehehe :)

      Delete
  6. Semua sekolah buah hati mulai dari SD, SMP dan SMA sekolah negeri. Bukan apa-apa, ringan di kantong ringan di hati. Sekolah di Balikpapan SD s/d SMA semua gratis tanpa bayar. Cuma seragam dan buku tulis yang kita bayar.

    Mungkin juga karena aku produk sekolah negeri ya.

    So far so good.

    Setuju, yang pasti kita harus pintar-pintar pilih sekolah yang terbaik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul ka Anna, aku pun produk sekolah negeri. Hehehe. Sekarang ke anak selektif karena lingkungan tempat tinggal kita juga ga terlalu nyaman untuk anak terlalu banyak main, memilih sekolah full day karena anak bisa main di sekolah dengan teman-temannya masih dalam pantauan guru dan penjaga sekolah, selain itu ada di lingkungan pendidikan.

      Jadi sekolah itu disesuaikan dengan kebutuhan, karena belum tentu sekolah mahal itu terbaik untuk anak kita. :*

      Delete
  7. Kalo bagi saya, jika harus memilih swasta mending sekolahin ke sekolah Islam Terpadu. kayak SD IT, SMP IT, atau SMA IT. karean kurikulumnya beda sm sekoalah pada umumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan saya juga memilih sekolah swasta Islam terpadu untuk anak saya. Tidak semua yang berlabel Islam Terpadu itu mahal, ada beberapa yang harganya standar namun tetap memiliki kurikulum belajar yang menarik. :)

      Delete
  8. Mbk saya butuh pencerahan nh putri pertama saya sekolah di SdiT sekarang sih kelas 1mw naek ke kls 2 kl diliat dari nilai dia termasuk 10dibawah mbk tp kls diliat dari awal masuk sekolah sampe sementer kedua kmrn dia ada kemajuan tp tetep masih 10terbawah kl begini gmn ya mbk baiknya apa saya pindahin aja sekolahnya Krn anak saya 10rensah trz kl mw saya tambah less pulang sekolahnya dh siang bgt kasian takut kecapean gmn mbk tolong kasih saran&masukan.sejarang saya lagi bingung takutnya anak saya GK bisa ngikutin target belajar di SDIT gth Krn standartnya sekolah yg tinggi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Siti Zule,

      Menurut saya, mba ngga perlu khawatir. Untuk kelas bawah (1 sampai 3) yang terpenting adalah pendidikan karakter anak, jadi sebaiknya kita tidak perlu was-was jika prestasi anak belum gemilang atau tidak juara kelas.

      Biasanya di sekolah swasta tidak menekankan anak kelas bawah untuk pelajarannya. Dulu anak saya pun belum lancar membaca, menulis, dan berhitung di kelas 1. Saya banyak mengobrol dengan psikolog bahwa anak kelas 1 SD terlalu dini untuk diikutkan ke dalam berbagai kegiatan les. Menurut saya untuk akademis bisa kita mulai nanti setelah kelas 3.

      Prestasi dan kemampuan anak meningkat terus, jika terlalu dini dipaksakan nanti anak akan lelah dan mudah jenuh.

      Tetap semangat ya, mba. :)

      Delete