04 June 2014

Cerita Dibalik Hp Nokia 3350

Hampir semua orang punya cerita unik dibalik hp pertamanya. Sekitar 10 tahun yang lalu, hp termasuk barang mewah karena harganya masih mahal dan hanya beberapa orang saja yang punya. Dulu, waktu jaman SMA, demam hp menjadi-jadi, teman-teman dari kalangan menengah ke atas sibuk gonta-ganti hp kalau ada keluaran terbaru, mungkin ini semacam tren yang secara otomatis memperlihatkan status mereka. Saya terlahir dari keluarga sederhana dan berkecukupan, alhamdulillah tidak kekurangan sama sekali. Sebetulnya saya sudah nenteng hp dari jaman SMP, karena ingin dibilang keren saya pun merengek ke papah untuk pijam hpnya sesekali kalau ke sekolah atau jalan-jalan bareng teman. Waktu itu kebanyakan hp ukurannya besar, berat, dan masih ada antenanya, saya suka pinjam hp papah yang nokia 5110. Waktu itu pake hp berasa paling gaya dan kece. 

Nah! Karena saat itu saya telah mulai beranjak dewasa dan sudah duduk di bangku sekolah menengah atas, papah mulai memberikan tanggung jawab dan memercayai saya untuk punya hp sendiri. Pas ulang tahun ke-17 papah memberikan saya sebuah hp nokia 3350 sebagai hadiah, inilah hp pertama saya. Waktu itu hp ini termasuk hp yang bersaing juga lho! Ada cerita seru cerita dibalik hp pertama saya (nokia 3350). 

Saat itu langit sore Bandung sedang cerah, saya pun segera beranjak pulang dari sekretariat Paskibra di Matraman 17 untuk kembali ke sekolah tepatnya di daerah Sarijadi yang jaraknya lumayan jauh. Ketika itu saya bergegas untuk latihan ekskul agar tidak terlambat. Saya harus beberapakali naik-turun angkot karena perjalanannya memang cukup jauh. Karena selama perjalanan membosankan tentu pelampiasan saya adalah melakukan kesibukan dengan si "blacky" (nokia 3350 yang case ori-nya biru saya ganti dengan warna hitam legam), hitam memang warna kesukaan saya, rasanya cool, elegan, dan tegas aja dengan warna ini. Balik lagi waktu di angkot, saya beberapa kali sibuk berkirim pesan dengan teman-teman yang sedang menunggu di sekolah, sambil sibuk juga main ular-ularan. Pasti permainan ular-ularan banyak penggemarnya, bukan? Lalu saya turun angkot dan sekali lagi naik angkot tujuan terakhir. Sebentar lagi saya sampai, posisi saya sudah di Pasteur, saya pun memasukkan hp di tas bagian depan yang khusus untuk menyimpan hp. 

Saya asik menikmati perjalanan karena sebentar lagi mau sampai dan saya sedikit termenung. Tepat di depan pemakaman Pandu Pasteur, dua orang pemuda turun dari angkot, mereka seperti terburu-buru dan resah. Tiba-tiba pak sopir teriak ke belakang memanggil saya "Neng, coba dilihat tasnya, ada yang hilang nggak? yang tadi kayaknya bapak lihat dari spion mereka ngambil sesuatu dari tas neng!" Saya cepat-cepat periksa dan ternyata si Blacky hilang... "Astagfirulah... hp saya dicopet pak! Makasih ya pak!" Saya langsung turun dari angkot dan saya lihat dua orang itu berlari dengan arah berlawanan, yang satu menyebrang jalan dan satu lagi menghilang di antara nisan-nisan di pemakaman. Saya sontak mengejar si pencopet yang menyebrang jalan. Saya pun melesat ke sebrang jalan dan hampir tertabrak sebuah mobil sedan putih yang melintas, namun sama sekali tak saya hiraukan. Untungnya saya tidak apa-apa. Saya hanya fokus ke si pencopet dan saya teriaki dia 'Malingggggg!!! Malingggg!!!' Otomatis beberapa warga yang melihat mencoba untuk menghadangnya. Saya pun menangkapnya dan langsung mengangkat kerah bajunya. "Maling lo!!! Mana hp gw!!! Sialan!!! Jangan macem-macem ya!!! Bapak gw polisi... Mau gw jeblosin penjara lo!!!" (Sebenarnya bapak saya itu pegawai kantoran biasa, hmmm ini mungkin bisa dibilang berbohong untuk kebaikan hehe...). Si pencopet ketakutan setengah mati "Ampunnnn... Ampunnn... Bukan saya mbak..." Dia  takut mengaku karena bisa-bisa dihakimi warga. Dia pun bilang kalau kawannya yang membawa hp saya dan dia akan minta kawannya itu untuk mengembalikan hp saya. Karena si pencopet mengaku, saya pun meminta warga untuk bubar. Dia masih gemetaran karena kalau dia macam-macam saya bisa saja tiba-tiba tempeleng dia habis-habisan. Saat itu penampilan saya tidak ada kesan femininnya sama sekali; rambut cepak, pakai sweater, kaos, celana PDL pendek selutut, membawa tas selempang kecil,  dan ber-sneakers. Pokoknya gaya saya cowok banget, yang kata orang-orang sih dibilang tomboy.

Lalu setelah itu kita pun menyebrang jalan dan menuju ke area pemakaman Pandu, sepanjang menyusuri pemakaman saya menginterogasi dia masalah asal dan tempat dimana dia tinggal sekarang. Ternyata asalnya dari Lampung dan mengaku baru pertama kali nyopet (who knows?). Saya tegaskan saya juga berasal dari tanah Sumatera dan dia tidak boleh macam-macam dengan saya. Kita terus berjalan sepanjang pemakaman. Kemudian si pencopet berteriak-teriak memanggil kawannya "Kijang dua... kijang dua... dimana kamu? Muncul! Ini sama-sama orang Sumatera!" Saya tertawa geli dalam hati, pencopet ini pake kode-kodean segala. Setelah beberapa saat si pencopet dua tidak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Saya kesal dan pencopet satu langsung kelimpungan. Kawannya pasti pulang ke kontrakan, tuturnya. Dia bilang ke saya pasti hpnya akan dikembalikan. Akhirnya kita menyusuri pemakaman sampai tembus ke jalan Padjajaran. Saya mengancam dia untuk tidak macam-macam. Kita pun naik angkot menuju Cimindi, tepat di bawah flyover dekat pertigaan jalan kita mampir ke sebuah wartel dan dia berencana menelpon hp saya dan berharap ada jawaban dari kawannya. Tentulah hp saya pasti sudah di-nonaktif-kan. Dia membawa saya ke sebuah pemukiman padat penduduk yang bergang-gang pakai ojek. Dia bilang ke saya untuk tidak menceritakan hal ini ke saudara-saudaranya di rumah kontrakan. Waktu itu saya lagi puasa dan bedug Maghrib pun berkumandang, dari tadi pengennya saya pecah emosi dan memukul wajah si pencopet tapi masih tertahan karena saya lagi puasa. Saya bilang ke dia kalau saya mau buka puasa dulu, dia menyuguhi saya pisang, gorengan, dan teh manis. Kemudian dia bilang hp saya pasti masih ada. Setelah itu dia membawa saya ke tempat lain untuk mengambil hpnya, dia meminjam motor saudaranya. Di wartel lain saya diminta menunggu sejenak, saya dititipi motor karena dia akan pergi ke rumah dibelakang pabrik yang mana sulit untuk dilalui kendaraan. "Mbak saya titip motor sebentar ya, jangan dibawa pergi ya mbak karna ini motor orang!" Dasar... ya kalau saya beniat jahat pasti langsung ngacir bawa ini motor. Beberapa saat kemudian dia pun muncul dan membawa hp saya. Akhirnya si Blacky terselamatkan. "Alhamdulillah" Simcardnya masih terselip di belakang batre.

Setelah itu si pencopet mengantarkan saya ke pemberhentian angkot. Saya memberikan dia wejangan. "Bang mudah-mudahan ini terakir kali abang nyopet. Kasian lah orang yang dicopet pasti sedih, sakit hati, dan dirugikan." Si pencopet minta maaf. Dia mengambil sesuatu di dalam saku celananya, "Ini ngga seberapa, untuk tambah-tambah ongkos pulang." Saya tidak menolak karena memang ongkosnya saya kurang. Alhamdulillah Allah masih melindungi dan menyayangi saya. Terima kasih yaa Allah. 

Akhirnya saya pulang dengan selamat dan menceritakan kenapa saya pulang larut kepada orang tua saya, mereka tertegun sedikit tidak percaya, anak gadisnya bisa membekuk pencopet. Mama saya bilang "Padahal Zi ngga usah dikejar sejauh itu, khawatir kamu diapa-apain, tapi Alhamdulillah Allah masih melindungi." Kalau papah beda lagi "Dimana rumahnya? Sini papah datengin!" Biasanya memang bapak sama ibu itu suka beda perspektif. Saya ambil hikmah dibalik semua ini.

Pelajaran yang bisa kita ambil, bahwa kita harus berhati-hati dengan barang bawaan ketika di dalam angkot, harus waspada dengan orang di sekitar, dan jangan sampai termenung di angkot, yang terakhir selalu meminta perlindungan dan pertolongan Allah dimanapun dan kapanpun kita berada. 


"Ini kisah nyata tanpa rekayasa, semoga ada hikmah dan pelajarannya yaa..."


http://www.istiadzah.com/2014/05/giveaway-cerita-hape-pertama.html


4 comments:

  1. hmm aku juga dapat hikmah dari hape jadulku :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang selalu ada cerita dibalik hp pertama ya mbak Icha :)

      Delete
  2. hahahaha seru banget mak kisahnya! keren banget berani ngejar copet. saya belum tentu deh bisa kayak gitu. tapi menurut saya itu hal yang kereeen banget bukan karena ngejarnya karena mak ini tanggung jawab bgt sama hape yg dikasi orang tua :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak... ngerasa tanggung jawab banget buat jaga hp pemberian bapak saya. Makanya copetnya saya uber sampe dapet hehehe

      Makasih udah komen ya mak...

      Salam hangat,
      Zia

      Delete