Pernah dengar istilah pareumeun obor? Dalam budaya Sunda, ini ibarat kita kehilangan arah karena nggak tahu silsilah keluarga sendiri. Itulah kenapa, pesan Ibu selalu terngiang: "Kenali leluhurmu, supaya kamu tahu siapa dirimu."
Baru-baru ini, saya dan keluarga menyempatkan diri ziarah ke Makam Para Bupati Bandung di Jl. Karang Anyar (belakang Pendopo/Alun-alun). Tempat ini bukan sekadar pemakaman, tapi "rumah" bagi para perintis Bandung.
Mengenal Komplek Makam Karang Anyar
Makam ini adalah tempat peristirahat terakhir bagi para Bupati Bandung dari trah Wiranatakusumah. Yang paling ikonik tentu saja R.A. Wiranatakusumah II (Dalem Kaum), sang pendiri Kota Bandung yang memindahkan ibu kota kabupaten dari Karangsambung ke lokasi yang sekarang pada tahun 1810.
Di sini suasananya tenang, sangat kontras dengan hiruk-pikuk pusat kota di luarnya. Ziarah ke sini rasanya seperti ditarik kembali ke masa lalu, menghargai jasa mereka yang sudah membangun fondasi kota ini.
Silsilah Keluarga dari Wiranatakusumah ke Pertemuan Dua Garis (trah Surawinata & Atmadiredja)
Berdasarkan cerita Ibu, garis keturunan kami bermuara pada R.A. Wiranatakusumah. Kakek termasuk generasi ke-6. Kakek (Aki) adalah trah Surawinata dan Nenek (Enin) adalah trah Atmadiredja (ada garis keturunan Pangeran Sumedang).
Zaman dulu pernikahan antara keturunan menak (Bangsawan Sunda) adalah bentuk pernikahan yang sangat lazim pada masanya untuk menjaga tali silaturahmi dan status sosial antar-keluarga besar penguasa lokal. Saat ini mungkin sudah berbeda cara papndangnya.
Ziarah bukan cuma soal mendoakan yang sudah tiada. Ada nilai lebih yang bisa kita ambil:
- Refleksi Diri
- Menjaga Identitas
- Menyambung Silaturahmi
Jangan sampai obor kita padam. Selama kita masih ingat nama-nama mereka dan mendoakannya, maka "lampu" keluarga kita akan tetap menyala terang.



Comments
Post a Comment