Lebaran selalu punya magnet tersendiri buat saya dan keluarga. Rasanya, ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu sepanjang tahun. Seperti ritual wajib, hari kemenangan kami dimulai dengan hangatnya kebersamaan: berangkat salat Ied bareng, momen maaf-maafan, sampai "perang" ketupat dan opor ayam di meja makan. Setelah itu? Tentu saja maraton silaturahmi ke rumah keluarga besar.
Ziarah dan Momen Refleksi Diri
Di tengah keriuhan Lebaran, ada satu tradisi yang mengingatkan kita akan "pulang": ziarah ke makam keluarga. Tahun ini, saya kembali mengunjungi makam Oma, nenek tersayang yang sudah berpulang sejak tahun 2013 lalu.
Ada banyak kenangan bareng Oma. Dulu, setiap pulang tenis di Bandung, Oma pasti mampir ke rumah. Kami banyak mengobrol dan bercanda gurau, saya paling suka disisir dan dikepang rambut sama Oma. Kadang Oma suka kasih minyak urang-aring (walaupun aku ga suka baunya, tapi saya senang). Setiap ketemu Oma ngasih satu kalimat bahasa Belanda buat saya ingat-ingat.
Makasih ya Oma untuk kenangan dan kasih sayangnya. Meskipun sudah belasan tahun berlalu, kenangan tentang beliau masih terasa nyata. Bagi kami, ziarah bukan sekadar rutinitas, tapi pengingat bahwa dunia ini hanya sementara. Di depan pusara Oma, saya seolah diajak untuk refleksi diri menata niat supaya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat ke depannya.
Healing Sejenak di Tepian Saguling
Nah, ada pemandangan yang beda banget di ziarah kali ini. Persis di belakang area pemakaman yang kami kunjungi, terhampar luas Bendungan Saguling. Kebetulan banget hari ini debit airnya lagi pasang, jadi pemandangannya beneran juara!
Buat yang belum tahu, Saguling ini sebenarnya salah satu waduk "raksasa" di Jawa Barat yang fungsi utamanya buat PLTA. Tapi kalau lagi pasang begini, auranya malah kayak "hidden gem" tempat wisata tersembunyi. Airnya yang meluap tenang ketemu sama hijaunya perbukitan di sekitar itu bikin adem banget di mata. Angin sepoinya bener-bener healing tipis-tipis setelah seharian muter silaturahmi. Rasanya tenang banget bisa duduk sebentar sambil melihat pantulan langit di permukaan airnya.
Penutup yang Manis
Hari yang panjang ini ditutup dengan sesi yang paling ditunggu-tunggu anak-anak (dan para uwa serta tante, tentunya): bagi-bagi THR! Melihat wajah sumringah mereka saat terima THR itu rasanya puas banget. Terakhir, nggak afdol kalau nggak ditutup dengan foto keluarga besar sebagai kenang-kenangan kalau di Lebaran 2026 ini, kita masih bisa berkumpul lengkap dan bahagia.
Sampai jumpa di cerita Lebaran tahun depan!
Comments
Post a Comment